Aku dan Mentalku [Challenge SWIS Kemuslimahan Fossi FT 2022]

Aku dan Mentalku

Hallo assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Gimana kabar kalian semua? Semoga sehat ya. Jaga mental kalian wkwk

Kalian udah tau pasti dong mental itu apa? Mental adalah hal-hal yang berkaitan dengan batin dan watak manusia. Dengan kata lain, kesehatan mental adalah kondisi ketika batin dan watak manusia dalam keadaan normal, tenteram, dan tenang, sehingga dapat menjalankan aktivitas dan menikmati kehidupan sehari-hari.

Sebaliknya, seseorang dengan kondisi mental yang buruk akan sulit mengendalikan emosi, stres, serta tidak dapat berpikir, tidak merasa, tidak bertindak, dan tidak dapat membuat keputusan dengan tepat. Bahkan, seseorang dengan mental yang buruk pun cenderung memiliki hubungan yang tidak baik dengan orang di sekitarnya atau cenderung menjauhi lingkungan sosial.

Ngomongin tentang mental, sebelumnya aku mau kenalin diri dulu nih. Aku devana dari jurusan kedokteran. Berdasarkan penjelasan diatas orang yang memiliki kesalahan dalam mentalnya akan memiliki hubungan yang tidak baik dengan orang disekitarnya. Hal ini pernah ku alami. Namun, sebenarnya aku bingung apakah aku ini baik baik saja atau tidak. Secara fisik aku sehat dan secara raut wajah terlihat bahagia. Bahkan orang sekitarku pun mengira aku bahagia dan seperti tidak ada beban. Semua itu salah, begitu banyak fikiran yang ada setiap harinya di otak ku. Entah itu hal positif ataupun negatif. Setiap malam harus bergelut dengan asumsi – asumsi yang belum pasti adanya.

Introvert kata orang. Itu sebutan untuk manusia yang suka berada di lingkungan yang tidak begitu ramai, dan ia membutuhkan waktu sendiri untuk mendapatkan energi kembali. Setelah bergelut dengan yang kata orang namanya introvert akhirnya sejak di bangku SMP, aku mulai terbuka dan disitulah aku mendapatkan banyak teman. Dari situ juga aku belajar tidak ada yang salah dengan orang sekitar, melainkan perasaan kita saja yang terlalu berlebihan. Hidup yang terlalu kesepian dan menyalahkan sang pencipta atas apa yang terjadi pada diri itu tidak benar.

Udah deh itu cerita sedikit dari kehidupan aku dimana pada saat itu aku merasa sendiri dan tidak memiliki siapa – siapa, serta tidak ada yang peduli. Padahal tidak demikian.

Ini pesan deh untuk kita semua terutama diri sendiri. Seyogyanya, kita sebagai manusia jangan merasa sendiri, jika kita percaya masi ada Allah yang bersama kita. Kalaupun dunia sedang tidak baik – baik saja ingat masi ada Allah untuk curhat dan maha tau segalanya, untuk itu berikhtiarlah dan berdoa agar diberikan kemudahan. Tidak hanya itu masih ada orang terdekat seperti orang tua. Jagalah mental kalian, buang pikiran negatifnya. Pikiran negatif akan membawa kita ke mental yang buruk dan ini juga tidak baik untuk kesehatan.

Keep smile semua.

 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Arsitektur dan Perjalanan Mendapatkannya [Challenge SWIS Kemuslimahan Fossi FT 2022]

Arsitektur dan perjalanan mendapatkannya

“kamu cita-citanya mau jadi apa, nak?”

Pagi-pagi itu, seperti biasa ayahnya membuka obrolan. Terlihat mimik berfikir sang anak mendengar pertanyaan itu. Sembari melepas mukenanya, ia menjawab “ga tau” lalu menggantung mukena.

“kamu harus punya cita-cita loh, masa ga jadi keterima di kedokteran jadi engga punya cita-cita lagi. Masih bingung ya mau jadi apa? Cepetan difikirin biar tujuan kamu tertata”

Ayahnya memang seorang yang sangat disiplin, selalu berfikir panjang sebelum bertindak dan tentu saja selalu punya tujuan untuk masa depan, bahkan masa depan yang hanya 1 menit lagi akan berlangsung. “Bangun bangun! Produktif produktif! Pagi-pagi harus produktif!” selalu kalimat itu yang terucap kalau anaknya sudah sholat shubuh kemudian tidur lagi.

2 tahun yang lalu seorang anak perempuan sedang membuka laptopnya. Dag dig dug bergemuruh kala akan membuka pengumuman jalur undangan di sebuah Lembaga lewat website penentu masa depan (istilah yang anak itu buat). Mulutnya komat-kamit sambil berharap yang akan muncul adalah hal baik.

-enter- dikliknya tombol enter di laptopnya setelah ia selesai memasukkan nomor-nomor serial penuh harapan.

Apa yang ada di benak kalian sekarang?

Biar kuberi tahu. Anak itu sedari kecil sekali kalau ditanya “mau jadi apa nanti besar?” dia selalu menjawab “dokter” agak besar ditanya lagi “mau jadi apa nanti besar?” dia jawab “dokter anak” lucu sekali, tidak berubah, tetapi bertambah. Kelas 6 SD ia mendengar cerita gurunya tentang dokter kandungan, kemudian jika ditanya “mau jadi apa nanti besar?” ia jawab “dokter kandungan”

Tidak ada yang berubah sampai kemudian ia menjadi sangat ambisius di zona SMA-nya. Tujuannya mulai terarah. Dia buat sebuah buku yang berisi tentang rencananya jika kuliah di kedokteran.

Rencana Jangka Panjang Sampai Jadi Dokter

Itu judulnya. Isinya tentang berbagai macam list yang akan dia lakukan, bahkan lagi sudah menentukan tema mau ambil skripis tentang apa. Waduh sekali ya.

Saat namanya terdaftar sebagai siswa eligible, ia langsung pergi ke mushola sekolah. Sendirian. Waktu dhuha. Tumben sekali memang. Kemudian minta ke penciptanya supaya dilancarkan langkah-langkahnya. Bersyukur sekali waktu itu.

Lalu, biar kulanjutkan. Saat melihat layar laptopnya, matanya berlinang, kepalanya pusing, 3 detik kemudian air matanya jatuh. Anaknya melankolis memang. Kemudian tersungkur dia seperti orang yang tidak punya kesempatan lagi, dia panggil ayahnya. Lalu, tanpa ragu dipeluknya sambil menangis tersedu-sedu dan bilang “aku ga keterima jalur undangan di kedokteran”

Nasihat mulai bertuah dari mulut ayahnya, lalu ibunya, lalu adiknya yang walaupun sarkas, tetapi cukup membuat dia sadar bahwa kesempatan itu selalu ada.

Setengah jam kemudian, ada yang namanya fitur video call. Dia gunakan  untuk telfon teman-temannya. Dipamerkannya wajah sembabnya sembari bilang “aku ga keterima” kemudian nangis, kemudian tertawa. Teman-temannya ikut tertawa. Paling tidak dia merasa tidak harus berjuang sendirian karena temannya pun ada yang gagal juga hari itu.

Perjuangan dimulai lagi. Ambis lagi. Pagi siang sore belajar. Buku-buku soal hampir penuh. Terkadang mimpi-mimpinya berisikan soal-soal kuantitatif. Bangun tidur langsung bisa dia mengerjakan soal yang timbul di mimpinya. Serius, aku jujur. Kalau kamu memperhatikannya saat itu, tangannya selalu bergerak seperti sedang menghitung persamaan matematika. Tidak ikut les khusus karena waktu itu sedang pandemi. Yang diikutinya hanyalah tes-tes online di sosial media kesayangannya.

Sampai tibalah di hari ujian masuk perkuliahan. Berkas sudah disiapkan, mental sudah disiapkan, fikiran-fikiran positif selalu digencarkan. Waktu itu dia ujian di fakultas impiannya. Masuk ruangan dan kemudian dapat kursi, lalu duduk. Ia berkhayal sudah menjadi mahasiswi di fakultas itu.

Ia lancar saja mengerjakan, beberapa soal ada yang tidak bisa dia jawab, tetapi menurutnya lancar-lancar saja saat itu.

Pengumuman ujian keluar dan hasilnya sama. Belum lulus. Kali ini sudah lebih terlatih, berlinang saja air matanya kemudian lanjut lagi menonton drama di laptop yang sama tempat ia membuka pengumuman itu.

Mulai daftar jalur mandiri di beberapa kampus dengan jurusan yang sama. Dan sempat daftar di kampus dengan jurusan yang berbeda dari tujuannya.

Singkatnya, kampus-kampus itu harusnya menyesal sih tidak menerimanya (aku bercanda).

Namun, kampus yang ia daftar dengan jurusan yang berbeda ini ternyata menerimanya. Pengumuman pertama yang menyatakan bahwa ia diterima. Di Psikologi.

Tetapi yang satu itu karena berbeda jadi agak dikesampingkan olehnya. Ia tetap fokus untuk menggapai cita-cita utamanya. Kampus impiannya membuka jalur khusus, syukurnya dia bisa mengikuti jalur itu. Ini jalur terakhir di tahun itu, jika ia tidak diterima di impiannya berarti dia harus menjadikan pilihan yang lainnya sebagai batu loncatan ataupun pengisi waktu yang mungkin akan terbuang.

Berkas sudah disiapkan dan ia sudah duduk di ruangan tempat ia akan diuji kembali. Boom. Selesai diuji, ternyata pengujinya menunjukkan gestur yang sangat menyenangkan. Hari itu, ia keluar dari ruangan dengan senyum yang lebar dan fikiran yang sangat positif.

Selama melewati hari-hari yang cukup menegangkan karena menunggu pengumuman, anak itu banyak belajar bahwa kegagalan adalah sesuatu yang sangat biasa. Semua orang pasti merasakan. Tidak ada takdir tuhan yang membuat manusia merugi. Setiap ketetapanNya pasti mempunyai alasan di dalamnya. Ia perlahan sudah belajar merelakan hal-hal yang ia sukai, tetapi mungkin tidak baik untuknya.

Hari pengumuman tiba lagi, hasilnya yah seperti yang sudah-sudah. Gagal lagi. Tapi berhasil di pilihan kedua. Senang sekali waktu itu. Loncat dan teriak. Aneh kan? Tidak disangka-sangka akan seperti itu reaksinya. Memang ya, hati manusia mudah sekali berbolak-balik.

Anak itu mungkin tidak akan menjadi dokter umum, dokter anak ataupun dokter kandungan. Setelah duduk di jurusan yang katanya asal pencet. Arsitektur. Ia banyak sekali belajar tentang dirinya sendiri. Seperti apa dunia kerja yang ia mau, seperti apa lingkungan yang ia mau dan seperti apa masa depan yang ia butuhkan.

Teman-teman yang baik dan tidak segan untuk mengingatkannya di kala salah, dosen-dosen yang sangat memberi dia banyak sekali pelajaran, senior dan junior yang mengajarkan dia arti dari menghormati dan menghargai, serta orang-orang yang memberi dia banyak sekali inspirasi untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat.

Menurutnya, semua bukan lagi tentang keinginannya. Ia lebih peduli seperti apa orang-orang yang ada di sekitarnya, pengalaman yang akan membentuknya dan kenangan yang akan membuat ia betah menengok ke belakang. Beradaptasi di sesuatu yang bukan diinginkan memang hal yang sangat sulit, tetapi dengan orang-orang dan cerita di dalamnya menjadikannya mengerti bahwa hidup bukan melulu tentang apa yang kamu inginkan, tetapi apa yang kamu butuhkan.

‘tulislah rencanamu dengan pena dan berikan penghapusnya kepada Allah. Biarkan ia menghapus bagian-bagian yang salah dan menggantinya dengan rencana yang lebih indah’

Kalimat itu yang mengajarkannya arti dari mencintai diri sendiri dan pencipta.

Tidak ada kegagalan, yang ada hanyalah kesuksesan yang tertunda -anonim-

Kisahnya Tak Secantik Tahunnya [challenge SWIS Kemuslimahan Fossi FT 2022]

Kisahnya Tak Secantik Tahunnya

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh semua, sebelumnya terima kasih sudah berkenan meluangkan waktu untuk membaca tulisanku ini. Sebelum aku mulai untuk menceritakan kisahku ini, izinkanlah aku terlebih dahulu memperkenalkan tentang diriku. Namaku Ayu Dwi Cahyarani, aku biasa dipanggil Ayu, sekarang aku sedang menempuh pendidikan di Universitas Lampung. Pada kesempatan yang istimewa ini aku akan sedikit berbagi kisahku pada kalian yang telah ku lalui beberapa tahun yang lalu, yang masih amat sangat berkenan dimemori hidupku ini, yang semoga bisa menjadi inspirasi dan pengingat untuk kalian dan terlebih lagi untuk diriku sendiri. Kisahku pada kesempatan kali ini akanku beri judul “KISAHNYA TAK SECANTIK TAHUNNYA”. Kisahku ini kuberi judul Kisahnya Tak Secantik Tahunnya, karena pada tahun ini begitu banyak cerita hebat yang kualami dan jalani dari fase tertinggi hingga terendah dalam hidupku, yang memberiku banyak sekali makna serta pelajaran akan hidup ini.

Kisahku ini berawal ketika aku berumur 16 tahun, yang mana pada saat itu aku tengah berada difase mempunyai segudang cita-cita dan mimpi untuk masa depan. Pada kala itu, aku tengah menempuh pendidikan akhir di Sekolah Menengah Pertama dan sedang dalam masa perjuangan untuk melanjutkan ketahap selanjutnya, yaitu Sekolah Menengah Atas. Banyak hal yang kulakukan dan kerjakan pada masa itu, dari padatnya kegiatan dan banyaknya ujian yang menghampiri silih berganti. Kerja keras dan usahapun tak luput selalu kulakukan, berharap bisa mendapatkan nilai terbaikpun terpatri dalam jiwa ini. Rasa percaya diri akan usaha diri sendiripun sudah amat maksimal dilakukan. Namun, aku tersadar bahwasannya ada satu hal yang terlupakan ketika semua upaya dunia sudah kulakukan yaitu jalur langit.

Hingga pada hari yang sangat kutunggu yang tak lain dan bukan yaitu hari dimana pengumuman nilai Ujian Nasional Sekolah dan Ujian Akhir Semester diumumkan. Bangga? Ya,tentu saja. Karena, aku berhasil mendapatkan juara pertama sebagai peraih nilai tertinggi nilai Ujian Nasional Sekolah dan mendapatkan peringkat 1 dikelas setelah 2 tahun lamannya berjuang untuk menggantikan posisi temanku kala itu. Bahkan, predikat siswa berprestasi disekolah tingkat 1 angkatanpun berhasil kuraih. Namun, itu bukanlah tujuan utamaku melainkan, mimpi utamaku adalah diterima di Sekolah Menengah Atas favoritku. Dimana SMA itu sudah menjadi mimpiku sejak lama.

Hingga datanglah momen yang paling kutunggu yaitu hari pendaftran. Namun, bukannya menjadi hari terindah untuk mengawali mimpiku, hari itu menjadi hari penuh duka untukku. Mungkin banyak yang bertanya mengapa kukatakan hari penuh duka,
karena pada hari itu yang seharusnya aku berbahagia, akan tetapi aku harus rela mengubur dalam-dalam mimpiku untuk mendaftar di SMA yang aku mimpikan. Dan tak hanya itu, banyak hal lain yang terjadi diluar prediksi yang membuat diri ini semakin hancur. Mungkin, banyak yang mengira dan menerkan-nerka alasan mengapa aku harus mundur sebelum aku berjuang untuk mendapatkan sekolah impianku itu, mungkin tak dapat dipungkiri pula bahwasannya pasti banyak yang mereka fikirkan sangatlah berbeda dengan aslinya, dan meskipun aku menceritakan semua kisah aslinya, nyatanya tak bisa menjamin semua orang percaya akan kisahku dan pada akhirnyapun yang bisa faham dengan kisahku adalah diriku sendiri dengan tuhan.

Rasanya sudah tidak bisa dijelaskan, bahkan kata sedih, marah, kecewa, semua bercampur aduk dalam pikiran,benak,dan jiwaku ini. Setalah hari itupun diri ini masih berjuang berpindah mendaftar SMA kesana kemari dan ya tentu saja aku ditemani orang terkasihku yaitu orangtuaku terkhusus ibu, tak lelah dengan panas dan hujan yang menerpa bahkan berkali-kali penolakan ku terima. Sakit? Ya,tak perlu dipertanyakan. Rasanya hancur ketika ada diposisi itu, melihat orangtua yang bersedih meskipun selalu bepura-pura kuat dihadapanku. Dan sejujurnya akupun juga lelah kala itu karena harus terus berpura-pura baik-baik saja ditengah keadaan yang sungguh menyiksa. Dan Hingga pada akhirnya aku memilih mengikhlaskan mimpi dan menerima takdir yang sangat diluar pemikiranku.

Hari demi hari kujalani, berusaha untuk senantiasa memahami yang aku tengah jalani, dan ya, seperti yang ku katakana diawal bahwa aku melupakan jalur langit, padahal jalur tersebut adalah jalur terbaik sebagai pengharapan. Sekian bulan aku jalani takdir ku ini dengan rasa berat dan bersedih hingga aku berada diposisi ikhlas walaupun belum ikhlas yang sempurna. Berusaha bersyukur akan semua proses dan takdir yang kulewati dan jalani, dan akupun mulai berusaha untuk memahami akan apa yang telah kujalani dan pelajaran yang aku dapat dari proses yang ku jalani ini.

Begitu banyak pelajaran hidup yang kudapatkan ditahun tersebut diantaranya aku belajar mengerti bahwasannya Tuhan adalah maha kuasa dan maha segalanya yang dimana ia selalu ambil peran penting dalam hidup dan apapun yang dijalani manusia tak akan terlepas dariNya. Iapun dzat yang dapat merubah hal yang dialami manusia dengan mudahnya, dzat yang bisa membalikan keadaan umatnya dengan amat mudah, dari hal aku alami saja aku menjadi mengerti dan yakin bahwa ketika aku diposisi tertinggi dengan pencapaianku pun dengan mudahnya ia bisa menempatkanku diposisi terbawah dengan tidak terwujudnya mimpiku. Dan ialah Allah dzat yang maha kuasa akan segala sesuatu, ia menjadikan yang tidak mungkin menjadi mungkin, iapun selalu memberikan yg terbaik untuk setiap hambanya meski perlu air mata untuk menerimanya dan walaupun takdirnya diluar pemikiran kita, bahkan buruk menurut kita, padahal takdirnya sejatinya adalah takdir terbaik untuk setiap umatnya. Ialah sebaik-baiknya tempat pengharapan. Pada moment inipun aku mendapat satu pelajaran yang amat sangat bermakna untukku, yaitu “Apapun Keinginan Kita Baik Besar atau Kecil Hal Tersebut Kita Harus Menyertakan Tuhan dalam Hidup”, karena pada akhirnya usaha sekeras apapun tak akan berhasil jika tidak menyertakan tuhan dalam proses yang kita jalani.

Pada akhir kisahku ini, hal yang ingin aku sampaikan adalah utamakanlah sang pemilik dunia ini yaitu Tuhan, tak perduli mau sebesar atau sekecil apapun keinginan, mimpi, dan tujuan hidup kita didunia ini, janganlah hanya berfokus pada dunia yang tak akan memberimu kebahagiaan yang kekal, namun jadikanlah dunia ini untuk wadah menabung kebahagiaan di surga firdausNya. Untuk kalian yang sedang dalam posisi yang sama seperti yang pernah kualami ini, semangat ya,aku tahu kata semangat sudah teramat membosankan terdengar dan teramat jenuh dibaca, namun jangan pernah putus asa, akan tetapi berlarilah sekencang-kencangnya kepada tuhan karena ia akan memberikan kita solusi dan takdir terbaikNya.

Sekian, kisah yang dapat aku sampaikan, kurang dan lebihnya serta baik buruk kata yang kusampaikan aku mengucapkan maaf, dan terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisanku ini. Peluk hangat untuk kita semua yang sedang berjuang dan berproses untuk jadi lebih baik lagi. Ku akhiri kisahku ini dengan kata alhamdulilah dan wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Mulianya Wanita dalam Islam

Sumber: Freepik

Fossi FT – Wanita ialah makhluk yang lembut dan penyayang karena perasaannya yang halus. Sebagai seorang anak yang akan tumbuh dewasa menjadi seorang istri dan seorang ibu, seorang perempuan sangat dimuliakan perannya dalam kehidupan. Wanita juga memiliki tanggungjawab yang besar dalam pembentukan dan pembangunan keluarga dan masyarakat Islam.

Dahulu kelakuan para kafir Quraisy terhadap perempuan sangatlah keji karena tidak mengizinkan perempuan untuk hidup. Oleh sebab itu, pada zaman jahiliyah, setiap orang tua yang melahirkan anak perempuan akan membunuh anaknya hidup-hidup. Hal ini terdapat dalam Alquran surat An-Nahl ayat 58-59.

Artinya:

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.

Begitu mulianya seorang wanita di dalam pandangan Islam. Rasulullah saw diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. tapi hal ini tidak menghilangkan adanya pembedaan antara laki-laki dan wanita dalam beberapa hak, sebab perbedaan dasar hak-hak tersebut.

Sebagaimana laki-laki, hak perempuan juga terjamin dalam Islam. Pada dasarnya, segala yang menjadi hak laki-laki, ia pun menjadi hak perempuan. Agamanya, hartanya, kehormatannya, akalnya dan jiwanya terjamin dan dilindungi oleh syariat Islam sebagaimana kaum laki-laki. Selain hal tersebut, perempuan memiliki keistimewaan tersendiri di mata Islam. Keistimewaan-keistimewaan tersebut yaitu sebagai berikut:

Posisi Perempuan dalam Islam adalah Pendamping Laki-Laki

Posisi perempuan dalam Islam adalah sebagai pendamping atau pasangan dari seorang laki-laki. Kodrat wanita dalam islam bukan bawahan atau pun atasan yang bisa diperlakukan seenaknya. 

Sebagaimana terdapat dalam Alquran surat Al-Hujarat ayat 13 yang berbunyi:

Yaa ayyuhan-naasu innaa khalaqnaakum min zakariw wa unsaa wa ja’alnaakum syu’ubaw wa qabaa’ila lita’aarafu, inna akramakum ‘indallaahi atqaakum, innallaaha ‘aliimun khabiir.

Artinya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Keistimewaaan Wanita yang Diciptakan dari Tulang Rusuk Laki-Laki

Seorang wanita memiliki keistimewaan yaitu, ia diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Dalam sebuah hadits dijelaskan tentang kewajiban lelaki yang harus mampu memperlakukan seorang wanita dengan lemah lembut, serta bersikap baik, dan sabar atas segala kebengkokan akhlak, dan lemah akal yang dimiliki wanita.

Oleh karenanya, seorang lelaki sangat dilarang untuk menceraikan istrinya tanpa alasan dan seorang lelaki tidak boleh memiliki ambisi untuk mendapatkan seorang wanita yang tanpa kekurangan.

Wanita sebagai makhluk mulia yang harus dijaga

 

Allah SWT berfirman dalam QS An-Nisa ayat 34:

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ۗ فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ ۗوَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ ۚ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًا ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا

Artinya: “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya…”

Hal ini menjelaskan bahwa wanita diciptakan sebagai makhluk mulia yang harus dijaga dan dilindungi. Allah menciptakan keindahan bagi wanita bukan hanya sekedar fisik semata, namun juga keindahan hati dan pikiran. Oleh karenanya, ini diumpamakan sebagai perhiasan yang harus dijaga dan dirawat.

Dengan begitu, Islam telah memberikan kisah yang menjelaskan betapa perempuan adalah insan yang sangat diistimewakan. Bahwa Islam telah menegaskan perempuan dengan kedudukan yang istimewa, maka hal yang sebaliknya, bahwa perempuan telah termarginalkan ataupun terdiskrimanisikan, sama sekali bukan potret ajaran Islam.

Dalam hal ini, seyogyanya umat Islam semakin memahami bahwa multi peran perempuan adalah fakta yang diapresiasi.

Perempuan punya peran, bahkan multi peran, maka jadikan keistimewaan tersebut sebagai penguat kebaikan bagi banyak orang.

(YN)

Media Sosial dalam Perspektif Islam

Link

Sumber: Freepik

Fossi FT – Media sosial merupakan sebuah sarana di mana para penggunanya dapat dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Saat ini media sosial kerap digunakan dari anak kecil hingga orang tua. Tujuan mereka menggunakan social media pun beragam, ada yang menggunakan media sosial untuk berinteraksi dengan orang lain, ada yang untuk berbagi momen, kadang ada juga yang digunakan untuk berbagi informasi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), media secara harfiah diartikan sebagai alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk.

Dewasa ini, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa No. 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial. Fatwa ini mengatur dan memberikan pedoman kepada masyarakat, khususnya umat Islam, tentang bagaimana tata cara penggunanan media digital berbasis media sosial secara benar berlandaskan kepada kepada Al-Quran, Sunnah dan pendapat para sabahat serta pakar teknologi informasi dan komunikasi. 

Menurut Fatwa tersebut, dalam berinteraksi dengan sesama, baik secara riil maupun media sosial, setiap muslim wajib mendasarkan pada keimanan dan ketakwaan, kebajikan (mu’asyarah bil ma’ruf), persaudaraan (ukhuwwah), saling wasiat akan kebenaran (al-haqq) serta mengajak pada kebaikan (al-amr bi al-ma’ruf) dan mencegah kemunkaran (al-nahyu ‘an al-munkar). Interaksi melalui media sosial hendaklah digunakan untuk mempererat ukhuwah (persaudaraan), baik ukhuwah Islamiyah (persaudaraan ke-Islaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), maupun ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan) serta juga guna memperkokoh kerukunan, baik intern umat beragama, antar umat beragama, maupun antara umat beragama dengan Pemerintah.

Sumber: Freepik

Fatwa tersebut juga menegaskan secara jelas berbagai macam perbuatan yang haram untuk dilakukan oleh setiap muslim dalam berinteraksi melalui media sosial. Perbuatan yang diharamkan tersebut antara lain adalah sebagai berikut: 

  1. Melakukan ghibah, fitnah (buhtan), namimah (adu domba), dan penyebaran permusuhan. 
  2. Melakukan bullying, ujaran kebencian, dan permusuhan atas dasar suku, agama, ras, atau antar golongan. 
  3. Menyebarkan hoax serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti info tentang kematian orang yang masih hidup. 
  4. Menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala hal yang terlarang secara syar’i. 
  5. Menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai tempat dan/atau waktunya.

Oleh karena itu, kebebasan berekspresi dan berpendapat yang digunakan untuk mengumbar kebencian dan permusuhan dilarang didalam Islam. Ada pembatasan alias pengendalian hukum dan moral terhadap kebebasan tersebut. Dengan demikian jelas sudah bahwa etika bermedia dalam Islam merumuskan pentingnya tabayyun sebelum membenarkan dan menyebarkan informasi. Menyebarkan kebencian dan membuat berita palsu juga dilarang keras oleh Islam.

(YN)