Arsitektur dan Perjalanan Mendapatkannya [Challenge SWIS Kemuslimahan Fossi FT 2022]

Arsitektur dan perjalanan mendapatkannya

“kamu cita-citanya mau jadi apa, nak?”

Pagi-pagi itu, seperti biasa ayahnya membuka obrolan. Terlihat mimik berfikir sang anak mendengar pertanyaan itu. Sembari melepas mukenanya, ia menjawab “ga tau” lalu menggantung mukena.

“kamu harus punya cita-cita loh, masa ga jadi keterima di kedokteran jadi engga punya cita-cita lagi. Masih bingung ya mau jadi apa? Cepetan difikirin biar tujuan kamu tertata”

Ayahnya memang seorang yang sangat disiplin, selalu berfikir panjang sebelum bertindak dan tentu saja selalu punya tujuan untuk masa depan, bahkan masa depan yang hanya 1 menit lagi akan berlangsung. “Bangun bangun! Produktif produktif! Pagi-pagi harus produktif!” selalu kalimat itu yang terucap kalau anaknya sudah sholat shubuh kemudian tidur lagi.

2 tahun yang lalu seorang anak perempuan sedang membuka laptopnya. Dag dig dug bergemuruh kala akan membuka pengumuman jalur undangan di sebuah Lembaga lewat website penentu masa depan (istilah yang anak itu buat). Mulutnya komat-kamit sambil berharap yang akan muncul adalah hal baik.

-enter- dikliknya tombol enter di laptopnya setelah ia selesai memasukkan nomor-nomor serial penuh harapan.

Apa yang ada di benak kalian sekarang?

Biar kuberi tahu. Anak itu sedari kecil sekali kalau ditanya “mau jadi apa nanti besar?” dia selalu menjawab “dokter” agak besar ditanya lagi “mau jadi apa nanti besar?” dia jawab “dokter anak” lucu sekali, tidak berubah, tetapi bertambah. Kelas 6 SD ia mendengar cerita gurunya tentang dokter kandungan, kemudian jika ditanya “mau jadi apa nanti besar?” ia jawab “dokter kandungan”

Tidak ada yang berubah sampai kemudian ia menjadi sangat ambisius di zona SMA-nya. Tujuannya mulai terarah. Dia buat sebuah buku yang berisi tentang rencananya jika kuliah di kedokteran.

Rencana Jangka Panjang Sampai Jadi Dokter

Itu judulnya. Isinya tentang berbagai macam list yang akan dia lakukan, bahkan lagi sudah menentukan tema mau ambil skripis tentang apa. Waduh sekali ya.

Saat namanya terdaftar sebagai siswa eligible, ia langsung pergi ke mushola sekolah. Sendirian. Waktu dhuha. Tumben sekali memang. Kemudian minta ke penciptanya supaya dilancarkan langkah-langkahnya. Bersyukur sekali waktu itu.

Lalu, biar kulanjutkan. Saat melihat layar laptopnya, matanya berlinang, kepalanya pusing, 3 detik kemudian air matanya jatuh. Anaknya melankolis memang. Kemudian tersungkur dia seperti orang yang tidak punya kesempatan lagi, dia panggil ayahnya. Lalu, tanpa ragu dipeluknya sambil menangis tersedu-sedu dan bilang “aku ga keterima jalur undangan di kedokteran”

Nasihat mulai bertuah dari mulut ayahnya, lalu ibunya, lalu adiknya yang walaupun sarkas, tetapi cukup membuat dia sadar bahwa kesempatan itu selalu ada.

Setengah jam kemudian, ada yang namanya fitur video call. Dia gunakan  untuk telfon teman-temannya. Dipamerkannya wajah sembabnya sembari bilang “aku ga keterima” kemudian nangis, kemudian tertawa. Teman-temannya ikut tertawa. Paling tidak dia merasa tidak harus berjuang sendirian karena temannya pun ada yang gagal juga hari itu.

Perjuangan dimulai lagi. Ambis lagi. Pagi siang sore belajar. Buku-buku soal hampir penuh. Terkadang mimpi-mimpinya berisikan soal-soal kuantitatif. Bangun tidur langsung bisa dia mengerjakan soal yang timbul di mimpinya. Serius, aku jujur. Kalau kamu memperhatikannya saat itu, tangannya selalu bergerak seperti sedang menghitung persamaan matematika. Tidak ikut les khusus karena waktu itu sedang pandemi. Yang diikutinya hanyalah tes-tes online di sosial media kesayangannya.

Sampai tibalah di hari ujian masuk perkuliahan. Berkas sudah disiapkan, mental sudah disiapkan, fikiran-fikiran positif selalu digencarkan. Waktu itu dia ujian di fakultas impiannya. Masuk ruangan dan kemudian dapat kursi, lalu duduk. Ia berkhayal sudah menjadi mahasiswi di fakultas itu.

Ia lancar saja mengerjakan, beberapa soal ada yang tidak bisa dia jawab, tetapi menurutnya lancar-lancar saja saat itu.

Pengumuman ujian keluar dan hasilnya sama. Belum lulus. Kali ini sudah lebih terlatih, berlinang saja air matanya kemudian lanjut lagi menonton drama di laptop yang sama tempat ia membuka pengumuman itu.

Mulai daftar jalur mandiri di beberapa kampus dengan jurusan yang sama. Dan sempat daftar di kampus dengan jurusan yang berbeda dari tujuannya.

Singkatnya, kampus-kampus itu harusnya menyesal sih tidak menerimanya (aku bercanda).

Namun, kampus yang ia daftar dengan jurusan yang berbeda ini ternyata menerimanya. Pengumuman pertama yang menyatakan bahwa ia diterima. Di Psikologi.

Tetapi yang satu itu karena berbeda jadi agak dikesampingkan olehnya. Ia tetap fokus untuk menggapai cita-cita utamanya. Kampus impiannya membuka jalur khusus, syukurnya dia bisa mengikuti jalur itu. Ini jalur terakhir di tahun itu, jika ia tidak diterima di impiannya berarti dia harus menjadikan pilihan yang lainnya sebagai batu loncatan ataupun pengisi waktu yang mungkin akan terbuang.

Berkas sudah disiapkan dan ia sudah duduk di ruangan tempat ia akan diuji kembali. Boom. Selesai diuji, ternyata pengujinya menunjukkan gestur yang sangat menyenangkan. Hari itu, ia keluar dari ruangan dengan senyum yang lebar dan fikiran yang sangat positif.

Selama melewati hari-hari yang cukup menegangkan karena menunggu pengumuman, anak itu banyak belajar bahwa kegagalan adalah sesuatu yang sangat biasa. Semua orang pasti merasakan. Tidak ada takdir tuhan yang membuat manusia merugi. Setiap ketetapanNya pasti mempunyai alasan di dalamnya. Ia perlahan sudah belajar merelakan hal-hal yang ia sukai, tetapi mungkin tidak baik untuknya.

Hari pengumuman tiba lagi, hasilnya yah seperti yang sudah-sudah. Gagal lagi. Tapi berhasil di pilihan kedua. Senang sekali waktu itu. Loncat dan teriak. Aneh kan? Tidak disangka-sangka akan seperti itu reaksinya. Memang ya, hati manusia mudah sekali berbolak-balik.

Anak itu mungkin tidak akan menjadi dokter umum, dokter anak ataupun dokter kandungan. Setelah duduk di jurusan yang katanya asal pencet. Arsitektur. Ia banyak sekali belajar tentang dirinya sendiri. Seperti apa dunia kerja yang ia mau, seperti apa lingkungan yang ia mau dan seperti apa masa depan yang ia butuhkan.

Teman-teman yang baik dan tidak segan untuk mengingatkannya di kala salah, dosen-dosen yang sangat memberi dia banyak sekali pelajaran, senior dan junior yang mengajarkan dia arti dari menghormati dan menghargai, serta orang-orang yang memberi dia banyak sekali inspirasi untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat.

Menurutnya, semua bukan lagi tentang keinginannya. Ia lebih peduli seperti apa orang-orang yang ada di sekitarnya, pengalaman yang akan membentuknya dan kenangan yang akan membuat ia betah menengok ke belakang. Beradaptasi di sesuatu yang bukan diinginkan memang hal yang sangat sulit, tetapi dengan orang-orang dan cerita di dalamnya menjadikannya mengerti bahwa hidup bukan melulu tentang apa yang kamu inginkan, tetapi apa yang kamu butuhkan.

‘tulislah rencanamu dengan pena dan berikan penghapusnya kepada Allah. Biarkan ia menghapus bagian-bagian yang salah dan menggantinya dengan rencana yang lebih indah’

Kalimat itu yang mengajarkannya arti dari mencintai diri sendiri dan pencipta.

Tidak ada kegagalan, yang ada hanyalah kesuksesan yang tertunda -anonim-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *