Cerita Inspiratif – Ar Rahman

Tanda-tanda orang yang memperoleh cinta dari Allah dapat kita lihat dari keimanannya yang terus bertambah dari waktu ke waktu,  ibadah dan kepatuhannya kian meningkat dalam menjalankan syariat agama,  lebih sensitif terhadap larangan-larangan-Nya dan menjauhinya,  memperbanyak zikir kepada Allah,  serta senantiasa merasa diawasi oleh-Nya kapan pun dan di mana pun. Sekali lagi dan berkali-kali tanda-tanda itu selalu terbukti lewat tubuh melalu mata yang dapat melihat,  melalui kaki yang dapat berjalan,  melalui tangan yang senantiasa memberi,  melalui telinga yang dipergunakan dengan pendengaran iman,  melalu lisan yang berkata sopan penuh  santun dan tata krama. Aku mencoba menyaring,  memaknai dan mengambil hikmah disetiap ujian. Karena Allah Maha Pengasih.

Limpahan rahmat serta nikmat sudah sangat besar  yang kudapat saat ini. Lewat dari sebuah harapan yang tadinya, untuk di tuliskan di hati saja takut. Kuliah? uang dari mana?. Ayah kandungku meninggal ketika aku menginjak kelas 6 SD. Sekali lagi,  tetapi Allah Maha Pengasih. Tahun 2017 alhamdulillah  aku diterima di dua universitas. Disisi lain Universitas pertama memberiku kuliah gratis,  namun biaya hidup tidak gratis,  karena takut membebani orang tua ku,  aku membatalkan kuliah di Universitas tersebut. Universitas ke dua baru diterima saja, belum ada tanda-tanda  beasiswa.  Bersyukurnya aku sudah mengurus berkas beasiswa, yang sudah cukup terkenal dimata Indonesia,  beasiswa Bidikmisi. Hanya itu harapan terakhir yang aku gantungkan dalam doa.

Malam yang penuh doa ku lantunkan sebanyak-banyaknya. Setelah melihat jam yang berdetik pelan namun sudah larut malam, aku memutuskan beristirahat, dan berharap besok adalah hari kemenanganku, karena besoklah pengumuman beasiswa itu yang akan membawa aku untuk kekehidupan selanjutnya. Bibir berdoa, mata perlahan menutup dengan pelan.

“Aku ada dimana ini?,  kenapa semua putih?,  ya rabbi,  ya illahi …” Tubuh bergetar,  kaki mengikuti lemas, jiwa ketakutan. Aku menangis dalam suatu ruang yang tidak sama sekali aku ketahui.  Kaki mulai berontak mencari-cari sosok yang terniang di ingatan.

“Ayah! Ibu!,” Suara tanpa ampun berteriak hebat, memanggil nama ayah dan ibuku. Aku mulai lemas lagi,  penuh rasa khawatir,  takut dan merasa dihantui dengan kebingungan.  Aku berlari-lari mencoba mencari ujung ruang yang tak bertepi ini. Semua putih.

“Tya ada dimana ini?  hiks. hiks. ” Air matalu meleleh.  Kakiku lemas tak berdaya.  Aku terguyur jatuh. Ketakutan. Tidak ada suara sama sekali,  tidak ada yang menjawab salamku.  Hingga sebuah  suara lantunan ayat Al-Quran sembari tersedu itu membuatku mencoba bangkit.

“Ar-rahman, ‘allamal-qur`aan…” Suara itu semakin jelas ditelingaku.  Aku terus berjalan cepat mengikuti rasa suara seperti menyeretku cepat-cepat pada sumber suara itu. Semakin jelas sebuah surat Ar-rahman  dilantunkan. Segaris senyum membuka senyumku.  Kali ini aku menemukan suara itu.  Pelan-pelan aku mendekati seorang perempuan yang sedang duduk didepan meja disinggahi Al-Quran. Semakin dekat, semakin jelas suaranya,  wajahnya. Perempuan itu menangis menitikan sebutir demi butir air mata dikertas Al-Quran, aku semakin dibuat bingung. Kepalanya menunduk, aku semakin mendekat.  Ya Rabbi apa artinya ini?.  Perempuan itu adalah diriku sendiri.  Raga itu sama persis dengan diriku. Aku menangis semakin tersendu. Tiba-tiba sekelias cahaya menyapu semua.

“Dek Tya!, Dek! Bangun!,  Bangun Dek! ” Tangan halus ibuku menyentuh kukit wajahku. Alhamdulillah  aku tadi bermimpi. Sesadar itupun aku langsung menceritakan apa yang aku impikan kepada  ibuku.

“Itu tandanya kamu harus lebih rutin membaca Al-Quran dan menghafalnya.” Kata ibuku mengakhiri malam itu. Aku tidak  melanjutkan tidurku.  Aku berdzikir sembari menunggu fajar yang dingin.

Mimpi itu rasanya benar-benar nyata. Aku mencoba mencerna apa arti semua mimpi itu, disisi lain pula aku mencoba berhusnudzon untuk melupakan bahwa mimpi adalah bunga tidur. Namun ada pukulan yang keras di dalam lubuk hati.  Apakah ini sebuah hidayah untuk terus menghafal Al-Quran?, sejak smp aku sudah hafal surat An-Naba tanpa dihafal berkali-kali. Sejak Smp pula aku bisa menghafal Ayat Al-Quran dengan cepat,  bahkan hanya dua kali baca Alhamdulillah  aku sudah bisa menghafal.  Penyesalan yang sangat memukul jiwaku ketika akhirnya aku harus pindah rumah. Hafalan Al-Quran ku tidak terjadwal. Semakin hari semakin lupa. Namun saat ini aku semakin sadar lewat mimpi surah Ar-Rahman.

Pengumuman menghapus fikiran lara sebab mimpi semalam yang tak kunjung hilang. Alhamdulillah, aku diterima beasiswa Bidikmisi di Universitas di kota Lampung. Andai sejak dulu mimpi surah Ar-Rahman itu datang,  aku pasti sudah sadar. Hafalan semakin tebal. Sekali lagi karena doa serta Al-Quran. Al-Quran yang membawaku pada mimpi-mimpi yang sesegara mungkin terwujudkan. Aamiin Yarabbal Aalamiin.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *