Cerita Inspiratif – Be a Smart Muslimah

Namaku Tania Putri. Aku anak bungsu dari 4 bersaudara. Aku memiliki Ayah dan Ibu serta 3 kakak perempuan yang selalu menemani dan membimbingku sejak kecil.

Keluarga kami adalah keluarga sederhana. Kami tinggal di daerah yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota yang hedonisme. Sejak kecil aku dan ketiga kakak perempuanku selalu diajarkan norma norma kehidupan oleh ayah dan ibu. Kami diajarkan untuk tidak suka meminta-minta, bercanda berlebihan bak keledai, dan pergi bermain jauh dari kompleks perumahan tanpa ada alasan yang jelas.Bagiku pendidikan terbesar dan terpekat hingga melekat dalam diriku adalah pendidikan primer yang telah diberikan oleh keluargaku.

Ayahku seorang guru honorer di salah satu Madrasah Tsanawiyah dan Ibuku berjualan kain dipasar. Meski penghasilan orang tuaku saat itu sangat minim, sampai sampai seringkali menyantap makanan dengan garam sebagai lauknya. Meskipun demikian, mereka sangat memprioritaskan pendidikan kami. Sempat terbesit harapan akan anak-anaknya di masukkan ke pesantren. Namun dalam kondisi ekonomi yang begitu memprihatikan harapan itu hanya tersimpan dalam benak ibu kami.

Musim penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebentar lagi. Di tengah kesibukannya mengurus keluarga, ayahku selalu menyempatkan waktunya untuk mempersiapkan berkas-berkas dan berbagai tes yang akan beliau lalui nantinya untuk menyandang status PNS. Tak terasa waktu terus berjalan. Detik demi detik, menit demi menit, jam jam berlalu dengan begitu lembutnya dan tibalah hari pengumuman kelulusan para calon Pegawai Negeri Sipil.Hal ini adalah waktu yang sangat ditunggu-tunggu oleh keluarga kami. Dengan penuh rasa harap cemas kami menunggu putaran jarum jam yang terasa melambat saat itu. Harapan yang begitu besar serta kecemasan yang sangat dirasakan oleh anggota keluarga kami akhirnya terbayarkan. Ayahku lolos seleksi Pegawai Negeri Sipil dan medapat peringkat ketiga. Sungguh itu merupakan penghargaan dan pencapaian luar bisa bagi kami.

 

Namun hal itu tidak berjalan semulus yang dibayangkan. Perlakuan curang para aparat berhasil menggeser dan merampas status PNS yang semestinya ayah dapatkan. Penjelasan dari petugas bahwasannya ayahku menyandang gelar PNS di provinsi Jakarta. Setelah ayahku pergi ke Jakarta pihak sana menyatakan bahwa status PNS nya berada di Provinsi Bangka Belitung. Setelah menemui ke dua aparat pengurus namun ayahku tidak mendapatkan kejelasan. Akhirnya tibalah titik jenuh dan ayahku tetap menjadi guru honorer biasa. Selang beberapa bulan, Ayahku memutuskan untuk berjualan di pasar saja. Sontak saja keputusan tersebut membuat kaget orang orang yang berada di rumah. Ibuku berpendapat meskipun gaji yang diterima ayahhanya Rp. 5000 setidaknya sudahcukup untuk membeli sabun sehingga bersih pakaian anak-anaknya.

Dukungan yang diberikan keluarga, para tetangga, saudara dan teman-teman terus mengalir deras. Aku menguatkan tekadku untuk menjadi anak yang berbakti dan membahagiakan keluarga. Meskipun ayahku kini belum sukses materi, setidaknya beliau telah menjadi pesantren dalam keluarga kami. Banyak hal dan pembelajaran yang bisa didapatkan olehku.

Kini aku telah menginjak tahun ketiga di bangku SMA. Semangat untuk melanjutkan study ke perguruan tinggi telah ku pupuk sejak kelas satu SMA. Dengan bekal informasi yang minim, aku terus mengerus informasi-informasi tentang dunia perkuliahanmelalui berbagai website dan artikel-artikel yang bersebaran secara gratis di media massa. Melalui bacaan-bacaan di artikel, aku mengetahui sebuah hal bahwasannya pendidikan itu mahal, namun tak semahal niat dan tekad kita.

 

Banyak remaja di daerahku yang selalu beranggapan bahwa menuntut ilmu cukup sampai di SMA/SMK sederajat setelah itu bekerja. Mereka tak menyadari ada jenjang yang lebih tinggi lagi yang bisa menjadi batu loncatan kita mencapai kesuksesan. Tak sedikit pula yang beranggapan meneruskan ke jenjang yangl ebih tinggi adalah sesuatu hal yang mahal.

Faktor ekonomi memang menjadi penyebab utama dari semua masalah tersebut. Di Negara Indonesia ini kebanyakan adalah kalangan menengah ke bawah. Sehingga mereka lebih mementingkan hidupnya sekarang yang susah ketimbang susah dirasa begitu dalam sekarang namun menyimpan kesuksesan di masa mendatang.

Di semester 2 ini kami mulai disibukkan mengikuti kelas tambahan untuk menghadapi Ujian Nasional. Di sela-sela waktu istirahat saya menyempatkan untuk mempelajari soal-soal seleksi penerimaan di perguruan tinggi. Sontak saja saya baru memahami dan menyadari bahwasannya untuk menguasai materi soal-soal harus dimulai sejak lama. Ketika masih duduk di kelas sepuluh dan sebelas saya hanya memiliki target untuk terus mempertahankan juara kelas dan meraih juara umum tanpa memiliki skill yang mumpuni. Sehingga ketika pengumuman juara kelas dan juara umum saya telah merasa puas dengan pencapaian saya kala itu.

Ketika saya menuju bangku kuliah, perjalanan untuk di terima di PTN bukan perjalanan yang singkat. Setelah melalui berbagai proses seleksi diriku belum juga dinyatakan lulus. Perasaan cemas beberapa kali terlintas dalam pikiran dan benakku, mengingat harapan dan tekad bulatku untuk melanjutkan study ke jenjang universitas dengan harapan bisa membuka mindset dan tumpukan pengetahuan agar memenuhi isi sanubariku. Namun rasa kecemasan itu tidak bertahan lama dan hanya berlangsung beberapa menit saja didiriku. Keluargaku selalu menyemangati dan mendoakan setiap langkah, tujuan serta cita-citaku. Akhirnya aku menempuh satu tes  terakhir  untuk memasuki universitas. Doa, usaha, dan harapan terlihat jelas di raut wajahku dan juga orangtuaku. Ini  merupakan tes terakhir yang diadakan pihak universitas dalam menyaring bakal calon mahasiswanya.  Aku memutuskan untuk gap year selama setahun dan akan mengikuti tes penerimaan mahasiswa tahun esok jika belum juga dinyatakan lulus.

 

Untuk menjalani gap year aku mimilih ke Kampung Inggris di Pare untuk memperdalam english skill. Walau belum tau bagaimana caranya dan bagaimana membayar kursus selama disana, namun  yang hanya  terlintas aku ingin kerja sembari kursus di Kampung Inggris.

 

Daaaan,, sore ini adalah pengumuman seleksi perguruan tinggi. Dengan menenangkan pikiran terlebih dahulu dan tidak terlalu menggebu-gebu seperti di hari  saat pengumuman beberapa seleksi sebelumnya, namun harapan besar masih menyulut dalam diriku. Dengan perlahan dan teliti aku memasuki nomor pendaftaran dan informasi tanggal lahir di kolom  website pengumuman. Dan Alhamdulillah aku akhirnya dinyatakan lolos dan mendapatkan beasiswa. Setelahditerima di salah satu PTN, pandangan hidupku selalu memikirkan bahwa “meski kita susah, tapi masih ada orang yang di bawah kita”. Dari situlah saya mengambil kesimpulan bahwa susah bukan berarti merasa susah.

Kini aku selalu membagikan kisahku kepada kawan-kawan yang belum kuliah dan sangat ingin melanjutkan pendidikannya. Ketika liburan akademik, sesekali guruku menghubungiku agar hadir ke sekolah tempat aku mengenyam pendidikan disana selama tiga tahun lamanya untuk berbagi cerita bahwa siapapun itu berhak mewujudkan cita-citanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *