Cerita Inspiratif – Nikmati Proses Itu

Assalamu’alaikum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuh…

Subhanallah Walhamdulillah Wa Laailahaillallah Allahuakbar…

Allahumma sholli‘ala Muhammad wa‘ala ali Muhammad, ammaba’du.

Perkenankan ana perkenalkan diri terlebih dahulu..

Nama ana Kiageng Reksa Pati, lahir di Pangkajene pada 27 November 1998

Ana sebenarnya tidak pandai dalam menulis karya sastra, tapi pada saat menulis tulisan ini ana coba membuka sisi lain diri yang mungkin orang lain tidak ketahui (bahwa diri ini jauh dari kesempurnaan). Alhamdulillah sampai saat ana menulis tulisan ini, ana bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang sama-sama mau berproses…berproses dalam rangka mencari keridho’an Allah.

Tulisan di bawah ini ana usahakan pembahasannya tidak meluap kemana-mana, jadi kalau tidak nyambung yaa maafkan penulisnya.

 

Awalnya saya tidak pernah berpikir akan ada di Jalan ini, akan berkenalan dengan da’wah, dan terjun sebagai aktivis. Cahaya itu sebenarnya sudah ana lihat, ya..saat ana duduk dibangku SMP. Saat itu ana berpapasan di dalam masjid lingkungan sekolah dengan sekelompok siswa laki-laki duduk bersama dengan seorang laki-laki yang dari perawakannya lebih tua, entahlah mereka lagi membahas apa. Saat itu ana berpikir mungkin mereka belajar bareng. Tidak hanya pada waktu itu saja dan bukan mereka saja ternyata yang punya kelompok, siswa perempuan pun juga ada ditemani dengan seorang perempuan yang dari perawakannya lebih tua. Reksa saat SMP adalah siswa yang asyik dengan dunia sendiri bersama dengan teman-teman gep-gepannya. Sempat berpikir untuk ikut ekskul Karate, tapi hal itu belum bisa kesampaiannya bahkan hingga saat ia menulis tulisan ini.

 

Ternyata Allah menunjukkan Jalan lain agar ana bisa bertemu kembali dengan Cahaya-Nya, tentu dengan rentetan kejadian tak terduga di bawah alam sadar. The First Step at Demo Ekskul SMA, yess acara yang dilaksanakan setelah kegiatan masa orientasi lingkungan sekolah, seluruh ekskul dipersilahkan untuk memperlihatkan kemampuan terbaiknya. Tapi menurut ana, penampilan the best of the best saat itu adalah ekskul Paskibra, selain itu ada juga ekskul menampilkan flashmob dengan lantunan lagu nasyid aku anak rohis, dan waktu ana pikir yaa biasa aja.

 

Di SMP ana termasuk suka dengan pelajaran IPS terutama mengenai sejarah dan geografi Indonesia dan berharap bisa masuk jurusan IPS di SMA, tapi ana akhirnya berpuas diri menjadi bagian dari masyarakat SAINS. Awalnya saya ndak percaya diri, apalagi ngeliatin wajah-wajah teman-teman sekelas cuek-cuek gituu…mirip orang pinter..mirip. Tapi alhamdulilah dari sini-lah ana mulai diperlihatkan kembali dengan Nur-Nya. Kejadiannya saat semester 1, saat itu Hari Jum’at selepas bel tanda pulang berbunyi menunjukkan pukul setengah 3 sore, diri ini melepas penat di beranda Masjid SMA hanya berpikir bagaimana diri ini menenangkan diri sejenak setelah melewati proses belajar. Tiba-tiba…ada seorang laki-laki perawakannya lebih tua dari ana, dia berucap seraya memberi salam, “Assalamu’alaikum..dek lagi ngapain? Daripada di sini mending masuk dulu yokk ke dalam (Masjid)”. Entah ada panah cinta yang langsung menyegat sanubari ini, kaki ini pun dengan ringannya menapaki setiap keramik hingga masuk ke dalam Masjid. Di sana ana melihat kakak itu sedang duduk di sudut Masjid bersama beberapa siswa laki-laki yang duduk melingkar, ana pun dipanggil oleh kakak itu untuk bergabung. Di samping kanan dan kiri juga ada kelompok lain, saat itu memori saat SMP sama sekali hilang bahwa hal ini ana pernah jumpai sebelumnya. Kami pun saling berkenalan satu sama lain, dan kakak itu menjelaskan apa maksud dia mengajak saya yaitu agar ikut program BBQ yang difasilitasi oleh ekskul Rohis. Hari itu rasanya ada yang berbeda, tapi apa yaa?. Kakak itu berterima kasih sudah mau ikut program BBQ dan menyarankan saya untuk ikut pada pertemuan berikutnya di hari yang sama.

 

Pada hari Jum’at pekan depan, selepas kegiatan belajar ana duduk-duduk dulu di beranda Masjid SMA. Seorang teman laki-laki (namanya Hafiz Muhammad) menghampiri ana dari arah yang tidak disangka-sangka yaitu dari arah belakang dan menepuk bahu saya seraya berucap “Sa, yuk masuk dulu ke dalem (Masjid) kan lu udah janji mau ikut gua ngaji”. Ana pun masuk ke dalam dan oleh Hafiz dibawa ke sudut kiri depan Masjid, ana melihat beberapa siswa laki-laki duduk melingkar bersama seorang laki-laki yang perawakannya lebih tua, ternyata orangnya berbeda dari yang pekan kemarin. Ana duduk disamping Hafizh dan memperkenalkan diri dengan kelompok tersebut. Kakak itu menjelaskan bahwa kegiatan mereka melingkar itu namanya Mentoring, isinya bisa mengaji, kultum, sharing, dan do’a bersama. Ana berpikir ternyata berbeda dengan yang kemarin yang hanya fokus pada mengajinya. Di hari yang sama kakak yang ngajar BBQ datang dan melihat saya ikut kelompok lain, ana pun sedikit malu dan ndak enak dengan beliau. Saat di tempat wudhu hendak mendirikan sholat ashar ana ketemu dengan kakak yang ngajar BBQ dan dia berucap, “Dek, ente mau ikut kelompok mana? Terserah ana ndak maksa sih, ente mau ikut kelompok itu ndak papa kalau mau ikut kelompok ane ndak papa”. Dengan perasaan berat hati ana ucapkan, “Ana di kelompok sana aja kak (Mentoring)”. Entahlah mungkin karena di kelompok tersebut ana lebih nyaman, terlebih ada teman sekelas di kelompok tersebut. Kakak itu pun mengilhami hal tersebut.

 

Dari saat itu ana mulai rutin ikut kegiatan mentoring di Hari Jum’at selepas kegiatan belajar, aktif bertanya berbagai hal, mulai dari hal wudhu hingga membahas virus merah jambu. Waktu terus berjalan, perkenalan dengan da’wah dan ekskul bernama Rohis itu mulai mengisi ruang di dalam hati ini hingga cinta itu mulai bersemai, yaa mulai peduli dengan permasalahan sesama siswa muslim di SMA yang penuh gejolak masa pubertas, meskipun diri ini juga merasakan gejolak yang sama.

 

Godaan untuk mulai coba-coba mencicipi apa yang namanya “Pacaran” itu ana rasakan, di kelas 10 entah kenapa perasaan itu muncul terkhusus dengan ‘’dia’’. Jadi di kelas ana itu sudah jadi rahasia umum kalau “dia” dan ana cukup dekat, kalau dikit-dikit lagi ngobrol langsung dicieeee-in, hingga akhirnya kalau setiap ketemu sama ‘’dia’’ suka senyum-senyum kucing gituu (jangan baper please). Entah kenapa rasa itu mulai berlebihan hingga belajar dan tidur pun memikirkan tentang “dia”, benar-benar mengisi ruang-ruang di setiap sisi di otak ini. Mulai lah ana cari-cari akun medsosnya, Facebook dan Twitter menjadi ajang untuk mencari hal-hal tentang “dia”, apalagi dia cukup sering memposting status yang baper, hingga kemudian saling berbalas pesan berbayar meskipun merelakan pulsa terkuras karena yang terpenting bisa saling mengabarkan. Hingga tahap ini ana dan “dia” belum saling menjalin hubungan spesial”, tapi teman sekelas suka ngompor-ngomporin buat nembakkkk. Perasaan itu mulai bertambah dengan adanya rasa kecemburuan bila “dia” lagi deket dengan siswa laki-laki lain meskipun cuma mengobrol. Luar biasa perasaan ana saat itu.

 

The Second Step, pada bulan November 2014, ana diangkat menjadi anggota divisi pembinaan ekskul Rohis. Ana saat itu sama sekali ndak pernah berpikir dipilih dan belajar dengan yang namanya da’wah, tapi yang ana heran saat itu ndak ada perasaan bersalah dan ingat bahwa saat itu lagi masa-masanya lagi baper-bapernya. Alhadulillah dilantiklah ana beserta pengurus Rohis yang lain bertempat di Masjid SMA dengan disaksikan oleh penduduk langit dan anggota-anggota Rohis yang lain.

 

Ternyata eh ternyata, “dia” ikut jadi pengurus juga di Rohis, makin naik darah nih ana. Tapi rasanya ada yang berbeda, tapi apa yaa?.

 

Bulan Januari 2015, ana ikut ekskul pramuka, tetapi kalau mau jujur ana ikut karena “dia” itu anggota pramuka SMA, ana pikir gimana caranya ana ndak lost contact dan ingin terus ketemu sama “dia”. Akhirnya dari hal itu ana ikut berbagai kegiatan ekskul pramuka dengan setengah hati (kalau ingin jujur).

 

Tibalah waktunya amanah di Rohis meminta waktu istirahat dan baper ana, yaa mulai diamanahkan menjadi MC, pengisi tilawah, koordinator seksi, hingga ketua pelaksana berbagai kegiatan ekskul Rohis. Dari sana ana mulai berkenalan dengan banyak alumni Rohis SMA hingga dekat dengan guru pendidikan agama Islam. Mulai biasa nungguin dan kejar-kejaran dengan ibu wakil kepala sekolah bidang kesiswaan demi secoret tanda tangan persetujuan kegiatan ekskul. Pikiran dan hati ini mulai diisi dengan kecintaan akan da’wah hingga belajar dan tidur, lisan ini sudah mulai sering berkata ASTAGHFIRULLAH kalau lagi ingat-ingat “dia”. Entahlah perasaan dan diri ini ternyata tanpa ana sadari sedang dituntun sama Allah kembali melihat lebih jelas Cahaya-Nya.

 

Setiap pemimpin ada masanya, dan setiap masa ada pemimpinnya. Pada bulan Oktober 2015 ana menerima kabar dari pimpinan Rohis kalau ana dicalonkan menjadi Ketua Rohis, saat itu ana tidak berpikir akan seperti ini akhirnya.

 

Tibalah saat Musyawarah Besar Rohis di bulan November 2015, mulai dari agenda LPJ pengurus sebelumnya hingga pemilihan ketua Rohis dan ketua Keputrian Rohis yang baru. Saat itu ada calon ketua ada 3 ikhwan dan calon ketua keputrian ada 2 akhwat. Kami saling mengkampanyekan program unggulan masing-masing, menjelaskan bagaimana program itu berjalan, hingga sasaran program. Tidak sampai disitu kami pun diinterogasi dengan pertanyaan-pertanyaan kritis dari kakak-kakak alumni Rohis yang hadir, kami pun jawab sebisanya. Setelah semua rangkaian untuk menyatakan pendapat antara peserta sidang, kami para calon dikeluarkan sementara dari ruang sidang menunggu hasil musyawarah.

 

Sampai pada tahap ini ana masih ndak percaya apa yang terjadi. Kalau bisa berbagi cerita ana saat pertama kali ikut mentoring itu ndak pernah daftar ekskul Rohis, dan ndak ikut kegiatan open recruitment dan meet up perdananya, hingga jadi calon ketua aja. Cukup lama kami di luar menunggu akan keputusan peserta sidang, hingga terdengar suara TAKBIR dari dalam ruang sidang yang menandakan hasil musyawarah sudah didapatkan.

 

Kami pun masuk kembail ke dalam ruang sidang, hati ini pun masih belum percaya apa yang terjadi. Suara moderator semakin membuat jantung ini berdecak kuat untuk menuntun melihat layar proyektor di depan kami untuk melihat nama siapakah yang tertulis di dalam slide. Dan ternyata nama itu adalah nama seorang laki-laki teman yang sekelompok mentoring, Akh Muhammad Fiqri Pratama terpilih sebagai ketua Rohis dan Ukh ANS terpilih sebagai ketua keputrian Rohis periode 2015-2016. Kami pun memberi selamat kepada mereka seraya berpesan agar amanah dengan jabatannya, suara TAKBIR pun memenuhi seisi ruang sidang hingga sidang musyawarah ditutup, perasaaan ana masih belum percaya bisa sampai sejauh itu.

 

Setelah musyawarah besar, ana mulai berpikir untuk lebih banyak berperan untuk ekskul Rohis, hingga akhirnya ana diamanahkan menjadi koordinator bidang Pengembangan Sumber Daya Siswa (PSDS) Rohis SMA yang mengurusi pembinaan dan kaderisasi ekskul Rohis. Ternyata eh ternyata “dia” juga diamanahkan menjadi Sekretaris Rohis, makin jadi aja nih.

 

Setelah struktur kepengurusan telah dirampungkan oleh ketua, kami pun mulai merancang program kerja untuk 1 tahun kepengurusan. Di bidang Pengembangan Sumber Daya Siswa (PSDS) Rohis ada bekerjasama dengan 2 divisi, yaitu divisi Pembinaan (yang akan diubah menjadi divisi Avicenna) dan divisi Kaderisasi (yang akan diubah menjadi divisi Kaderisasi dan Pembinaan).

 

Sebelum kami dilantik, “dia” mengundurkan diri menjadi sekretaris Rohis karena ingin lebih fokus di ekskul pramuka. Sempat terbesit perasaan kecewa “dia” kok keluar sih, tapi yasudahlah jalanin aja toh ‘’dia” bukan siapa-siapa ana. Ternyata eh ternyata kita masih ketemu di ekskul pramuka.

 

Alhamdulillah acara pelantikan pengurus Rohis periode 2015-2016 dilaksanakan pada hari Rabu di bulan November 2015, disaksikan oleh penduduk langit dan anggota-anggota Rohis yang lain. Murabbi ana memberi selamat dan berdo’a semoga amanah dengan jabatannya. Saat-saat seperti ini sebenarnya adalah hal yang sakral, berjanji dengan Qur’an di atas kepala itu sangat sakral.

 

Dari Rohis inilah perantara Allah untuk perlihatkan Cahaya-Nya lebih jelas. Dari yang dulunya jadi objek da’wah kemudian harus menjadi yang menda’wahi orang lain. Perubahan itu tidak lain atas izin Allah.

Proses ini tidak lepas dari berbagai serangkaian tahap pembinaan di kelompok kecil, yaa mentoring atau liqo’, dari Rohis inilah ana dan teman-teman pengurus mulai berproses dan terus berproses, alhamdulillah semua pengurus termasuk adek kelas semua aktif liqo di SMA. Ana bersyukur kepada Allah yang menunjukkan Cahaya-Nya dengan berbagai rentenan kejadian tak terduga di bawah alam sadar. Ana juga bersyukur tidak berpacaran dengan “dia”, ana ndak tahu akan seperti apa jadinya.

 

Saat menjadi pengurus inilah proses hijrah itu semakin mengalami percepatan pertumbuhan, selain tampilan fisik, in syaa Allah hijrah hati terus berlanjut lewat perantara mentoring atau liqo’ murabbi memberikan nasehat-nasehat penyejuk hati untuk tetap istiqomah berhijrah dan terus mengajak orang lain dalam kebaikan.

 

The Third Step, saat amanah yang kami pegang akan dilanjutkan oleh adek-adek kami, ana berterima kasih kepada teman-teman pengurus yang sama-sama mau berjuang dan istiqomah dalam berhijrah hingga saling tebar kebaikan khususnya di lingkungan SMA.

 

Hingga saat pengurus telah berganti, kami-lah waktunya memberi banyak nasehat-nasehat unuk adek-adek pengurus yang baru untuk perbaikan Rohis kedepannya. Saat ana duduk di kelas 12, ana diamanahkan untuk menjadi murabbi liqo’ di SMP. Alhamudillah step berikutnya untuk lebih banyak berkontribusi untuk agamanya Allah. Yaa proses itu terus berlanjut, hingga kini saat ana sedang kuliah ana dipesankan untuk tetap berkontribusi aktif untuk da’wah. Proses itu masih berlanjut…nikmatilah kejutan apalagi yang Allah siapkan.

 

Great Thank’s for Allah and Nabi Muhammad

Thank’s too for my family that always support me to do something right.

And don’t forget for my murabbi (Ka Purwo and Ka Riski) and my hijrah friends.

 

Wassalamu’alaikum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *