Media Sosial dalam Perspektif Islam

Sumber: Freepik

Fossi FT – Media sosial merupakan sebuah sarana di mana para penggunanya dapat dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Saat ini media sosial kerap digunakan dari anak kecil hingga orang tua. Tujuan mereka menggunakan social media pun beragam, ada yang menggunakan media sosial untuk berinteraksi dengan orang lain, ada yang untuk berbagi momen, kadang ada juga yang digunakan untuk berbagi informasi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), media secara harfiah diartikan sebagai alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk.

Dewasa ini, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa No. 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial. Fatwa ini mengatur dan memberikan pedoman kepada masyarakat, khususnya umat Islam, tentang bagaimana tata cara penggunanan media digital berbasis media sosial secara benar berlandaskan kepada kepada Al-Quran, Sunnah dan pendapat para sabahat serta pakar teknologi informasi dan komunikasi. 

Menurut Fatwa tersebut, dalam berinteraksi dengan sesama, baik secara riil maupun media sosial, setiap muslim wajib mendasarkan pada keimanan dan ketakwaan, kebajikan (mu’asyarah bil ma’ruf), persaudaraan (ukhuwwah), saling wasiat akan kebenaran (al-haqq) serta mengajak pada kebaikan (al-amr bi al-ma’ruf) dan mencegah kemunkaran (al-nahyu ‘an al-munkar). Interaksi melalui media sosial hendaklah digunakan untuk mempererat ukhuwah (persaudaraan), baik ukhuwah Islamiyah (persaudaraan ke-Islaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), maupun ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan) serta juga guna memperkokoh kerukunan, baik intern umat beragama, antar umat beragama, maupun antara umat beragama dengan Pemerintah.

Sumber: Freepik

Fatwa tersebut juga menegaskan secara jelas berbagai macam perbuatan yang haram untuk dilakukan oleh setiap muslim dalam berinteraksi melalui media sosial. Perbuatan yang diharamkan tersebut antara lain adalah sebagai berikut: 

  1. Melakukan ghibah, fitnah (buhtan), namimah (adu domba), dan penyebaran permusuhan. 
  2. Melakukan bullying, ujaran kebencian, dan permusuhan atas dasar suku, agama, ras, atau antar golongan. 
  3. Menyebarkan hoax serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti info tentang kematian orang yang masih hidup. 
  4. Menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala hal yang terlarang secara syar’i. 
  5. Menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai tempat dan/atau waktunya.

Oleh karena itu, kebebasan berekspresi dan berpendapat yang digunakan untuk mengumbar kebencian dan permusuhan dilarang didalam Islam. Ada pembatasan alias pengendalian hukum dan moral terhadap kebebasan tersebut. Dengan demikian jelas sudah bahwa etika bermedia dalam Islam merumuskan pentingnya tabayyun sebelum membenarkan dan menyebarkan informasi. Menyebarkan kebencian dan membuat berita palsu juga dilarang keras oleh Islam.

(YN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *